top of page

Fakta Angka Bullying Anak di Indonesia dan Solusi Permainan untuk Meningkatkan Empati Anak

  • Gambar penulis: dg toys
    dg toys
  • 17 Des 2025
  • 2 menit membaca

Bullying atau perundungan adalah masalah serius yang terus bermunculan terutama di lingkungan sekolah dan rumah. Kasus kekerasan tidak hanya terjadi dalam bentuk fisik, tetapi juga verbal dan sosial. Data menunjukkan bahwa kasus kekerasan pada anak masih sangat tinggi, dan sebagian besar terjadi di tempat di mana anak seharusnya merasa aman.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat bahwa pada awal tahun 2024, 35% dari total aduan kasus kekerasan anak terjadi di lingkungan sekolah.Secara keseluruhan, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat 573 kasus kekerasan terjadi di lingkungan pendidikan sepanjang tahun 2024, menandakan bahwa upaya pencegahan yang ada belum efektif.

Kasus-kasus ini menimbulkan dampak jangka panjang. Korban bullying di SD rentan mengalami kecemasan berlebih, merasa tidak berharga, rentan terhadap depresi, dan mengalami penurunan prestasi belajar.

 

Peran Role-Playing (Bermain Peran) dalam Meningkatkan Empati

Untuk menghentikan siklus perundungan, diperlukan solusi yang menyentuh akar masalah yaitu defisit Empati (kemampuan merasakan perasaan orang lain) dan Asertivitas (kemampuan membela diri dan berani berkata "tidak" tanpa harus marah atau takut). Mengapa bermain peran efektif? Alasannya sederhana:

 

1.    Belajar Sambil Praktek



Anak-anak belajar keterampilan sosial, seperti empati, melalui observasi dan praktik langsung. Dalam bermain peran, anak dipaksa untuk mencoba menempatkan diri sebagai korban, pelaku, atau saksi.

 

2.    Program Pelatihan



Kegiatan ini diawali dengan edukasi mengenai apa itu bullying melalui materi dan animasi kartun. Lewat animasi akan didongengkan tentang perilaku bullying agar anak bisa lebih memahami dengan melihat contoh nyata. Setelah dipastikan anak-anak memahami materi dengan baik, kemudian dilanjutkan pemaparan materi yang kedua, yaitu mengenai empati dan perilaku asertif.

 

3.    Melalui Permainan



Penelitian juga menunjukkan bahwa integrasi role-playing ke dalam permainan interaktif (seperti ular tangga) secara signifikan meningkatkan kesadaran anti-bullying dan keterampilan sosial anak SD. Permainan interaktif tidak hanya meningkatkan kesadaran anak terhadap bullying, tetapi juga membantu mengembangkan keterampilan sosial seperti empati, kerja sama, dan pengendalian diri.

 

DG Toys terus berinovasi untuk menghasilkan produk permainan yang menjadi alat belajar empati yang menyenangkan dan dapat diulang-ulang. Mainan berbasis role-playing seperti kategori Dress Up dan Play Game adalah platform sempurna untuk simulasi sosial. Anak dapat menggunakan boneka kertas atau kartu permainan untuk mempraktikkan skenario cerita, melatih dialog asertif, dan memahami perasaan korban. Hal ini memungkinkan penanaman nilai moral secara organik, tanpa resistensi seperti di kelas formal.


 
 
bottom of page